Warga Carawali sudah berkumpul sejak sore, menunggu. Ada rasa hangat di udara yang dingin.

Program berikutnya ia paparkan. “Mario,” katanya, tentang pertanian, perkebunan, dan peternakan. Tentang harga gabah yang stabil, pupuk yang cukup, dan air irigasi yang lancar.
Warga yang mendengar angguk-angguk kepala. Sudah lama mereka merindukan perhatian seperti ini.

“Mari kita buat Sidrap lebih hidup,” katanya lagi.

“Kita kembangkan industri di Pitu Riawa dan Pitu Riase. Supaya anak-anak kita tidak perlu ke kota, mereka bisa bekerja di sini, di tanah ini.”

Langit malam semakin gelap, namun pembicaraan terus mengalir. Seperti obor yang dinyalakan, janji-janji H. Mashur menghangatkan warga yang selama ini didera masalah keseharian.

Terakhir, ia berbicara soal “Madising.” Kesehatan.

“Rumah sakit kita perlu diperbaiki,” ujarnya. “Bukan hanya fisiknya, tapi pelayanannya. Kita butuh lebih banyak dokter, lebih banyak tenaga medis, supaya tidak ada lagi yang menunggu terlalu lama saat sakit.”

Dan di Carawali, seperti di Uluale, harapan mulai tumbuh. Ini bukan hanya soal janji politik. Ini soal langkah-langkah kecil yang pasti.

Seperti jalan desa yang akan diperbaiki, jembatan yang akan dibangun, dan lampu-lampu yang akan menyala di malam hari.

H. Mashur mengerti. Kemenangan bukan hanya di kotak suara, tapi di hati orang-orang ini. Dan di malam itu, di dua desa yang berbeda, ia tahu, ia sudah menyalakan lilin harapan di setiap mata yang memandangnya.

Sidrap tidak lagi sekadar tanah pertanian yang didera masalah klasik. Dengan HAMAS NA, tanah ini bisa jadi ladang masa depan.(*)