Sidrap, okeindonesia.online — Matahari sudah mulai lelah ketika H. Mashur tiba di Uluale.
Senja menyambutnya dengan lembut, seperti tangan hangat yang menjabat erat. Langit mulai berwarna oranye, dan para warga sudah berkumpul.
Bukan hanya sekadar pertemuan, ini lebih dari itu—ini silaturahmi, dialog, dan harapan yang berpendar di setiap mata yang menatapnya.
Di bawah naungan langit yang mulai gelap, ia berbicara. Bukan pidato yang berapi-api, bukan orasi panjang lebar.
Kalimatnya pendek-pendek, tetapi jelas seperti air sungai yang mengalir di antara sawah-sawah di Sidrap.
“Program saya ini, bukan janji manis,” ujarnya tenang. “Ini kebutuhan, bukan lagi keinginan.”
Warga Uluale mendengar dengan saksama. Mereka bukan buta akan janji politik. Tapi, ada sesuatu dalam caranya berbicara.
Sesuatu yang membuat mereka mau percaya. Mungkin karena Mashur tidak berbicara di atas panggung. Ia berbicara di tanah yang sama di mana mereka berpijak.
Di kampung ini, di sawah ini, ia menyampaikan HAMAS NA—singkatan program yang menjadi bendera perjuangannya.
“Macca,” katanya. “Pendidikan itu kunci. Sekolah rusak, akan kita bangun. Anak-anak pintar tapi miskin, akan kita sekolahkan.”
Orang-orang tersenyum. Mereka tahu, masa depan bukan hanya soal harapan, tapi soal langkah nyata.
Setelah itu, matahari benar-benar pergi. Malam datang menyelimuti desa.
H. Mashur pun melangkah ke Carawali. Kali ini di bawah gemerlap bintang, ia kembali bicara. Sama seperti di Uluale, namun suasananya lebih intim, lebih dekat.















Tinggalkan Balasan