“Nyala terus, bayar tidak. Hidup tidak perlu serba susah,” katanya, dengan senyum lebar. Program ini digadang-gadang bisa meringankan beban pengeluaran rumah tangga.
“Orang susah jangan tambah susah,” Yusuf berujar, dalam nada khiasan.
Lalu, ia berbicara soal rumah. 1.000 bedah rumah setiap tahun. Rumah-rumah reyot bakal dibenahi, dibangun kembali.
“Rumah layak, hidup pun layak,” katanya. “Tak ada lagi rumah bocor saat hujan, tak ada lagi dinding bolong, tak ada lagi lantai tanah.”
Bukan cuma itu. Ia juga menyiapkan layanan kesehatan. Pengobatan gratis, lengkap dengan antar jemput.
“Kalau sakit, tinggal telepon, jemput gratis, diobati gratis,” ujarnya, penuh keyakinan.
Yusuf tak berhenti di situ. Pendidikan juga jadi fokus. Anak-anak dari keluarga miskin akan diberi seragam sekolah gratis.
“TK, SD, SMP, semua dapat seragam. Tak ada alasan tak bersekolah karena tak punya seragam,” katanya sambil menekankan pentingnya pendidikan.
Soal infrastruktur? Ia tak main-main. Rp 5 miliar per tahun per kecamatan untuk pembangunan jalan dan jembatan.
“Jalan mulus, jembatan kokoh. Akses lancar, ekonomi tumbuh,” katanya, lugas.
Dan untuk yang mengabdikan diri pada agama, Yusuf menyebut tunjangan untuk imam, pegawai syara, dan guru mengaji.
“Mereka yang menjaga moral kita, harus kita jaga kesejahteraannya.”
Sore itu, warga Kampale mendengar dengan seksama. Sebagian tersenyum, sebagian mengangguk.
Seakan Yusuf telah menjawab doa-doa mereka yang panjang. “Bukan janji surga, ini langkah nyata,” kata Yusuf menutup pidatonya.
Langit makin mendung, tapi hati warga Kampale cerah. Harapan mereka untuk Sidrap yang lebih baik, tampaknya menemukan cahayanya.(*)















Tinggalkan Balasan