Ia ingin setiap warga, terutama yang kurang mampu, dapat mengakses kesehatan tanpa terbebani oleh biaya. Ini adalah nafas baru bagi mereka yang terdesak oleh penyakit.
Tak hanya itu, program seragam sekolah gratis juga mencuri perhatian.
“Anak-anak kita berhak mendapatkan pendidikan tanpa hambatan ekonomi,” katanya. Dalam program ini, Muh Yusuf ingin memastikan setiap anak, tanpa kecuali, dapat mengenakan seragam sekolah dengan bangga.
“Mari kita bangun infrastruktur,” serunya, melukiskan program pembangunan jalan dan jembatan senilai Rp 5 miliar per tahun per kecamatan.
Jalan yang mulus, jembatan yang kuat, adalah urat nadi perekonomian. Ia mengajak masyarakat membayangkan kehidupan yang lebih baik, aksesibilitas yang lebih mudah.
Sebagai penutup, ia mengangkat pentingnya kesejahteraan bagi imam, pegawai syara, dan guru mengaji. “Mereka adalah pilar moral kita. Mari kita tingkatkan kesejahteraan mereka,” ajaknya, seolah menggenggam harapan di tangan.
Malam itu, di Desa Cipotakari, pertemuan bukan hanya sekadar dialog. Itu adalah permulaan. Permulaan harapan, permulaan untuk Sidrap yang lebih baik.
Dengan senyum dan harapan, masyarakat kembali ke rumah, membawa benih-benih cita-cita yang tumbuh subur dalam hati. Sebuah langkah kecil, namun penuh makna. Kita bisa bersama-sama membangun Sidrap yang lebih cerah.(*)















Tinggalkan Balasan