Lalu, ia beralih ke program “Mario”, pengusaha sukses itu bicara tentang tanah, sawah, dan hasil bumi.
“Harga gabah harus stabil. Jangan sampai petani dirugikan,” suaranya bergetar.
Pupuk harus ada, distribusi bantuan adil. Irigasi lancar, tak boleh ada yang terlewat.
Kawasan industri buah-buahan akan kita kembangkan.
Wajah-wajah petani tersenyum tipis. Ada harapan baru yang mulai bersemi.
Warga terus mendengar, hikmat, hingga ia berbicara soal program “Madising—kesehatan”.
Di klusul ini, H. Mashur mengatakan, ke depan, Rumah sakit regional harus dibangun.
Ia tak ingin, masih ada lagi warga yang bingung mencari rumah sakit.
Kualitas pelayanan kesehatan akan ditingkatkannya, tenaga medis juga akan diperbanyak.
BPJS gratis? Tetap lanjut! Sorak kecil terdengar, kebanggaan melintas di wajah mereka.
Warga tahu, kesehatan adalah investasi utama, “Sidrap harus sehat,” kata H. Mashur.
Bicara soal Madeceng—infrastruktur. Jalan desa, jalan tani, jembatan, semua akan diperbaiki.
Danau Sidenreng akan menjadi wisata terbaik.
Begitu juga dengan fasilitas umum, pasar, olahraga, semua akan ditingkatkan.
Dan yang paling penting, “Sidrap menyala!” katanya sambil mengangkat tangan. Tepuk tangan riuh. Ada optimisme di sana.
Tak lupa, ia menyentuh hati warga dengan program “Mabbarakka—keagamaan”.
“Imam masjid dan perangkatnya harus dihargai. Insentif, pengobatan, hingga umrah gratis, semua akan kita berikan,” akunya
Jamaah tertegun. Bukan hanya itu, setiap masjid akan punya ambulans, dai muda, hafidz.
Masyarakat Sidrap harus makin mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa.
Terakhir, H. Mashur bicara tentang Sidrap Berdaya dan Malebbi—kesejahteraan dan keamanan.
UMKM akan dilatih, bantuan modal disediakan.
Para pelaku 4S (Sabung ayam, Narkoba, Perjudian, Pencurian) akan diberdayakan. Tak ada yang dibiarkan tersesat.
Poskamling diaktifkan, patroli malam rutin. “Keamanan adalah pondasi,” katanya tegas.
Hari mulai gelap, lampu-lampu jalan perlahan menyala. Warga belum beranjak. Di bawah langit malam yang semakin pekat, H. Mashur menutup dengan janji.
“Saya bukan hanya bicara. Ini adalah ikhtiar kita bersama. Sidrap lebih baik bukan sekadar mimpi, tapi kenyataan yang bisa kita wujudkan,” pungkasnya
Warga mengangguk pelan. Ada yang membisikkan doa. Sidrap, dengan segala harapannya, bersiap menuju perubahan.(*)















Tinggalkan Balasan