Jakarta Okeindonesia.com- Pertemuan bersama awak media dengan Marsekal Pertama TNI Andi Sutomo atau di Sidrap lebih banyak dikenal Jenderal Andi Sutomo di Kedai ‘Riolo’ yang terletak di jalan Kwitang Jakarta Pusat, memberi kesan sangat mendalam bagi para wartawan online yang kebetulan sedang berada di Jakarta dalam rangka Mubeslub III IWO SeIndonesia.
Marsekal Pertama (Marsma) TNI Ir H..A.Sutomo, S.T., S.H., M.S.i., (Han), CEH., IPP., menikahi seorang wanita cantik pilihan hatinya asal Kabupaten Soppeng bernama Hj Andi Nurhaida pada tahun 1991, dan telah dikarunia tiga (3) orang anak, yaitu anak pertama bernama Iptu Andi Yasser Abdullah Sutomo, saat ini bertugas sebagai Komandan Kapal patroli Polisi Hayabusa di perairan kepulauan Riau, lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) R.I tahun 2017, anak kedua bernama Letda Pnb (Penerbang) Andi Satria Muhammad Sutomo, lulusan Akademi Angkatan Udara (AAU), dulu dikenal sebagai AKABRI UDARA, saat ini bertugas sebagai penerbang TNI AU di Skuadron 4 Malang, dan sibungsu yang cantik bernama Hj Andi Sintya Nur’aini Sutomo yang masih duduk dibangku Sekolah Menengah Atas (SMA Angkasa) di Halim Perdanakusuma Jakarta Timur.
Jenderal Andi Sutomo lahir dan besar di Tanru tedong Kabupaten Sidrap, Lulus SDNno. 5 Tanrutedong tahun 1977, SMPN 1201 Tanrutedongg tahun 1981, SMAN No 2 Makassar tahun 1984.

Prestasi akademik putra asli kelahiran Sidrap ini terlihat sejak dibangku pendidikan dasar terbukti dari juara-juara yang pernah diraihnya sehingga tidak jarang mendapatkan dispensasi berupa bebas tes masuk ke sekolah jenjang lebih tinggi berikutnya ketika itu.
Selesai Sekolah Menengah atas tentu saja Universitas Hasanuddin (UNHAS) menjadi pilihannya dan berhasil lulus tes di Fakultas Teknologi Pertanian. Namun disaat yang bersamaanpun beliaupun mendaftarkan diri sebagai Calon Taruna AKABRI dan dinyatakan lulus tes setelah mengikuti seleksi daerah di Makassar (saat itu bernama Ujung Pandang) dan seleksi pusat Akabri di Magelang. Tentu saja sangat dilematis karena harus memilih satu diantara dua pilihan yang sama-sama dicintainya, dan akhirnya memilih melanjutkan pendidikan di Akabri karena memang tidak mungkin meninggalkannya karena sesaat setelah diumumkan lulus maka keadaan tiba-tiba berubah drastis dari terbiasa santai menjadi serba berbau militer, Lulus dari Akabri Udara pata tahun 1998.
Jenjang Karir Marsma TNI Andi Sutomo antara lain: Komandan Sastrad Kwandang, Kepala pusat Operasi Pertahanan Udara di Makassar, Dosen Madya dan autama di Seskoau, Kepala Bidang Informasi dan Persandian Pusdatin Kemhan, Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Unhan RI, Sekertaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Pertahanan Republik Indonesia, dan masih banyak jabatan lainnya.
Dibidang operasi militer, beliau adalah seorang Perwira Ground Control Interceptor ((GCI Controler) yang pada saat pertempuran udara bertugas untuk menuntun arahkan pesawat tempur menuju target untuk dihancurkan. Beliau juga berpengalaman melaksanakan latihan militer bersama dengan negara-negara sahabat, latihan gabungan Trimatra TNI. Pernah beberapa kali menjadi narasumber pada even-even yang bersifat internasional seperti latihan bersama dengan Komando Pasifik Amerika (US Pacom), Garuda Shield, Pengamat Militer dan pasukan Perdamaian di Sierra Leone- Afrika timur (Unamsil) dan Sudan Afika Barat (Unmis), serta berbagai kegiatan dinas lainnya di berbagai negara seperti Australia, Uni Emirate Arab, Malaysia, dsb. Ada hal yang menarik ketika bertugas sebagai pasukan perdamaian dan pengamat militer adalah kita tidak boleh menembak atau membunuh karena tugas kita adalah membawa perdamaian kepada mereka yang sedang dilanda perang saudara, jadi kita sah jadi sasaran tembakan tapi kita sebagai pasukan PBB tidak boleh membuka tembakan kepada mereka kecuali untuk tindakan bela diri, namun demikian pasukan PBB telah diperlengkapi dengan peralatan militer yang cukup canggih seperti helikopter atau kendaraan lapis baja untuk patroli. Banyak negara yang ikut terlibat dalam operasi pemelihara perdamaian tersebut, dan sebagai pengamat militer kita dikawal oleh pasukan bersenjata dari beberapa negara seperti Nepal, Pakistan, Bangladesh, dsb
Marsma TNI A.Sutomo beberapa kali mengenyam pendidikan diluar negeri seperti di Siemen Plessey Radar Inggris, National Defense University (NDU) dan Naval Post School (NPS) di Amerika Serikat, beberapa kali bertugas di Hawaii Amerika Serikat, dsb..
Beliau menyandang sederetan tanda jasa , diantaranya Satya Lencana Kesetiaan 8 tahun, 16 tahun, 24 tahun, Santi Darma, Lencana SEROJA (Timur-timur), Medali PBB , Dwidya Sistha , Swana Buana Paksa, Yudha Dharma, dll.
Sarjana S1 Elektro dan hukum, S2 Srategi Perang Semesta. Sementara saat ini beliau dalam proses menyelesaikan Program S3 Doktoral di Universitas Pertahanan R.I.
Selain terlahir sebagai suku Bugis dan berdarah Bangsawan, Andi Sutomo tidak pernah lupa akan asal usul serta kebiasan masa kecilnya, maupun akan silsilah keturunan dari keluarga besarnya, kakeknya Toa Calo Arung Maiwa memiliki lima (5) saudara kandung, La Panguriseng Addatuang Sidenreng, La Mannujengngi datu Pammana, La cincing Pilla Wajo, Toa Patunru’ karaeng Beroanging Gowa, kelima bersaudara yang menjadi raja di 5 kerajaan itu merupakan anak dari La Pasanrangi muhammad Arase petta cambangnge arung malolo Sidenreng, anak dari La Wawo (Addatuang Sidenreng) dari ibunya bernama I Bombeng Karaeng Pabbeneang anak dari Sultan Tallo yang juga cucu dari Raja Gowa.

Ibu dari Andi Sutomo bernama Hj.Andi Panangngari (A. Opong) anak dari Petta Karaeng lolo Andi Cori Arung Maiwa dengan Hj Andi Coma, dimana Petta Opong juga masih cucu dari I Tenri Bokori (Besse Tempe/Wajo) sementara bapaknya bernama H Andi Chaeruddin anak dari H.Andi Lambong (cucu dari La Panynyiwi Petta Boranewe Arung Otting) yang juga masih keturunan dari La Panguriseng (Addatuan Sidenreng)
Terkait semuanya dengan kisah riwayat hidup dan pendidkan Beliau itu, A.Sutomo menyampaikan bahwa peranan awak media itu sangat penting, dimana harus menyampaikan sesuatu yang benar namun terkadang mendapat satu rintangan pada saat menjalankan tugas.
Diakhir Perbincangan, Ia menitip pesan bagi kaum generasi muda agar tetap menjaga daerahnya yang mejadi ikon sebagai kota santri, Penghasil telur dan Lumbung padi terbesar di Sulawesi Selatan (*









Tinggalkan Balasan